JAKARTA, Quick respons-– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengumumkan bahwa Indonesia telah memasuki puncak musim kemarau tahun 2026 pada bulan Agustus hingga September. Seiring dengan menurunnya curah hujan secara signifikan di sebagian besar wilayah, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan air bersih dan bahaya kebakaran hutan serta lahan (karhutla).
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam konferensi pers di Jakarta
Sabtu (1/8/2026), menyatakan bahwa fenomena ini dipicu oleh pergeseran fase iklim dari La Niña Lemah ke kondisi Netral yang berpotensi menuju El Niño. “Sekitar 61,4 persen atau 429 Zona Musim (ZOM) di Indonesia diprediksi mengalami puncak kemarau pada Agustus ini. Kondisi udara yang sangat kering dan suhu tinggi membuat material organik di lahan menjadi sangat mudah terbakar,” jelas Faisal.
Hingga akhir Juli 2026, BMKG telah mendeteksi lebih dari 5.000 titik panas (hotspots) yang tersebar di berbagai pulau, dengan konsentrasi tertinggi berada di Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, dan Nusa Tenggara Timur. Titik-titik panas ini menjadi indikasi awal adanya pembakaran lahan yang dapat memicu kabut asap tebal dan mengganggu kesehatan masyarakat serta aktivitas penerbangan.
Menyikapi hal tersebut, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, menegaskan bahwa pemerintah telah menyiagakan satuan tugas pemadaman karhutla di seluruh daerah rawan. “Kami telah berkoordinasi dengan TNI, Polri, dan BPBD untuk melakukan patroli udara dan darat. Kami juga meminta perusahaan perkebunan dan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar,” tegasnya.
BMKG memberikan beberapa rekomendasi kepada masyarakat dan pemerintah daerah:
Penghematan Air: Masyarakat diimbau untuk mulai menghemat penggunaan air bersih dan memanfaatkan teknologi penampungan air hujan jika masih memungkinkan.
Cegah Karhutla: Dilarang keras membakar sampah atau membersihkan lahan dengan api. Jika menemukan titik api, segera laporkan ke posko terdekat atau melalui aplikasi pelaporan bencana.
Kesehatan: Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan jika kualitas udara memburuk akibat kabut asap, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.
Pertanian: Petani disarankan untuk menunda masa tanam atau beralih ke tanaman yang tahan kekeringan hingga curah hujan kembali normal pada Oktober-November mendatang.
Hingga berita ini di turunkan,sejumlah daerah seperti Palembang dan Pontianak telah mulai melaporkan penurunan kualitas udara. Pemerintah pusat memastikan akan terus memantau perkembangan iklim dan memberikan bantuan logistik berupa tangki air bersih ke wilayah-wilayah yang dinyatakan krisis.
(Mnur)

