2 Juli 2026

Pengemudi Ojol Beralih ke pertalite

Pengemudi Ojol & Transportasi Umum: Para driver ojek online dan angkutan umum yang sebelumnya menggunakan Pertamax demi menjaga performa mesin kini mulai beralih ke Pertalite karena selisih harga yang sangat lebar (hampir Rp6.250 per liter). Bagi mereka, penghematan operasional harian mencapai puluhan ribu rupiah yang sangat krusial untuk pendapatan bersih.

Antrean Panjang di SPBU: Dampak paling terlihat adalah antrean panjang di berbagai SPBU penjual Pertalite. Stok Pertalite di sejumlah daerah bahkan dilaporkan habis atau menipis drastis akibat lonjakan permintaan mendadak ini.

Kelas Menengah Terjepit: Lembaga riset seperti CELIOS mengingatkan bahwa kenaikan ini tidak hanya memukul kalangan bawah, tetapi juga kelas menengah yang selama ini setia menggunakan Pertamax namun kini terpaksa “turun kelas” ke Pertalite karena daya beli yang tergerus

⚠️ Risiko bagi Mesin Kendaraan

Meskipun penghematan terasa nyata, para ahli otomotif dan sebagian pengguna mobil tetap memperingatkan risiko beralih ke Pertalite:

Kompatibilitas Mesin: Banyak kendaraan modern dengan rasio kompresi tinggi dirancang khusus untuk RON 92 (Pertamax). Penggunaan Pertalite (RON 90) dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan knocking, penurunan performa, hingga kerusakan komponen mesin yang justru lebih mahal biayanya dibanding selisih harga BBM.

Dilema Driver: Ini menciptakan dilema baru bagi pengemudi transportasi: hemat hari ini tapi berisiko rusak besok. Beberapa driver memilih tetap pakai Pertamax meski margin keuntungan menipis, sementara yang lain nekat pakai Pertalite dengan harapan perawatan ekstra masih lebih murah daripada biaya BBM harian

📊 Respons Pemerintah

Pemerintah melalui Kementerian ESDM dan Pertamina saat ini sedang memantau ketat potensi perpindahan konsumsi massal ini. Jika ketidakseimbangan pasokan-pertanyaan Pertalite berlanjut, dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas distribusi BBM bersubsidi dan memicu kelangkaan di wilayah-wilayah tertentu.

Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi memiliki dampak riil dan langsung terhadap ekonomi mikro masyarakat, terutama sektor transportasi yang menjadi tulang punggung mobilitas sehari-hari.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *