Sidoarjo, Quick Respons– Kejadian menghebohkan terjadi di sebuah pondok pesantren besar di Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada Kamis (27/8/2026). Sebanyak 147 santri dilaporkan mengalami gejala keracunan makanan massal setelah menyantap menu makan siang yang disediakan oleh dapur umum pesantren. Para santri tersebut terpaksa dilarikan ke beberapa fasilitas kesehatan terdekat, termasuk Puskesmas Taman dan RSUD Dr. Soetomo, untuk mendapatkan perawatan medis intensif.
Kronologi kejadian bermula sekitar pukul 12.30 WIB, saat para santri selesai melaksanakan salat Zuhur dan bersiap untuk menyantap makan siang
Menu yang disajikan hari itu adalah nasi, ayam opor, sayur lodeh, dan kerupuk. Tidak lama setelah mengonsumsi makanan tersebut, puluhan santri mulai mengeluhkan sakit perut, mual, muntah-muntah, dan diare akut. Kondisi ini dengan cepat menyebar ke asrama-asrama lain, memicu kepanikan di lingkungan pondok.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah, KH. Ahmad Fauzi, menyatakan keterkejutannya atas insiden ini
Kami sangat menyesalkan kejadian ini. Kami langsung berkoordinasi dengan pihak kesehatan setempat untuk mengevakuasi santri yang sakit. Saat ini, seluruh aktivitas belajar mengajar diliburkan sementara untuk fokus pada pemulihan dan investigasi penyebab,” ujarnya dalam keterangan pers singkat di lokasi kejadian.
Tim medis dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo segera turun tangan untuk menangani korban. Kepala Dinkes Sidoarjo, dr. Siti Aminah, M.Kes., menjelaskan bahwa sebagian besar santri mengalami dehidrasi ringan hingga sedang akibat muntah dan diare berulang. “Hingga sore ini, 147 santri telah diperiksa. Sebanyak 120 orang mendapatkan perawatan rawat jalan di puskesmas, sementara 27 santri lainnya dirawat inap di RSUD karena kondisi yang lebih lemah, terutama mereka yang memiliki riwayat maag atau daya tahan tubuh rendah. Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa dan kondisi mayoritas sudah membaik,” jelasnya.
Untuk mengetahui penyebab pasti, petugas surveilans epidemiologi Dinkes bersama Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya telah mengambil sampel sisa makanan, air minum, serta sampel tinja dan muntahan dari beberapa santri yang paling parah gejalanya. Hasil sementara dari uji cepat (rapid test) di lapangan menunjukkan adanya indikasi kontaminasi bakteri Salmonella dan E. coli pada sampel ayam opor yang diduga tidak matang sempurna atau terpapar suhu ruang terlalu lama sebelum disajikan.
Kami menduga ada kelalaian dalam proses penyimpanan bahan baku atau higiene saat pengolahan
Ayam opor yang dimasak sejak pagi kemungkinan disimpan dalam wadah terbuka tanpa pendingin yang memadai, sehingga bakteri berkembang biak dengan cepat di cuaca panas seperti hari ini,” tambah dr. Siti.
Pihak kepolisian Polres Sidoarjo juga telah menurunkan tim untuk mengamankan TKP di area dapur pesantren. Mereka memeriksa catatan pembelian bahan makanan, kondisi kulkas penyimpanan, serta mewawancarai para juru masak dan petugas kebersihan. Belum ada tersangka yang ditetapkan, namun polisi menekankan bahwa jika ditemukan unsur kelalaian berat yang membahayakan nyawa, proses hukum akan tetap berjalan sesuai dengan KUHP.
Insiden ini menjadi pengingat keras bagi pengelola institusi pendidikan berbasis asrama
khususnya pondok pesantren, untuk lebih ketat menerapkan standar higiene dan sanitasi makanan (HACCP). KH. Ahmad Fauzi berjanji akan melakukan evaluasi total terhadap manajemen dapur, termasuk mengganti vendor pemasok bahan makanan dan memberikan pelatihan kesehatan bagi seluruh staf dapur.
Orang tua wali santri yang cemas telah diizinkan untuk menjenguk putra-putri mereka yang dirawat di RSUD dengan protokol ketat. Pihak pesantren juga berjanji akan menanggung seluruh biaya pengobatan dan memberikan kompensasi berupa potongan uang saku atau dana kesehatan sebagai bentuk tanggung jawab moral. Masyarakat diharapkan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi terkait penyebab keracunan hingga hasil laboratorium resmi keluar.
(Mnur)

