31 Agustus 2026

BMKG Peringatkan Meluasnya Musim Kemarau 2026: Puncak Diprediksi Lebih Kering Akibat El Nino

JAKARTA, Quick respon– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan seiring meluasnya cakupan musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia. BMKG memprediksi bahwa puncak musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung mulai Juli hingga September, dengan sifat cuaca yang diperkirakan lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-rata normalnya akibat pengaruh fenomena El Nino yang bertahan di Samudra Pasifik.

Berdasarkan analisis klimatologi terbaru per Juli 2026, perluasan musim kemarau ditandai dengan berkurangnya curah hujan secara signifikan. Pada bulan Juli ini, sekitar 83 Zona Musim (ZOM) atau 12,26 persen wilayah Indonesia diprakirakan mulai memasuki puncak kemarau. Area terdampak meliputi sebagian Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian Papua.

Puncak kemarau diproyeksikan akan meluas secara drastis pada bulan Agustus mendatang, mencakup hingga 369 ZOM atau sekitar 48,84 persen total wilayah daratan Indonesia.

“Musim kemarau kali ini merupakan siklus tahunan yang perlu diwaspadai lebih ekstra karena intensitasnya yang lebih kering dari rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir. Curah hujan pada periode Juli hingga Desember berada pada kategori rendah hingga menengah,” tulis BMKG dalam keterangan resminya.

Mitigasi Risiko Kekeringan dan Karhutla

Menyikapi meluasnya wilayah kering ini, BMKG mengingatkan potensi dampak nyata yang dapat mengganggu berbagai sektor kehidupan, di antaranya:

Krisis Air Bersih & Pertanian: Penurunan debit air yang berpotensi memengaruhi pasokan air bersih domestik serta irigasi lahan pertanian.

Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla): Meningkatnya risiko titik api (hotspot), terutama di wilayah semak dan hutan terbuka.

Kesehatan Masyarakat: Risiko lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat memburuknya kualitas udara karena debu dan polusi.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah bersama instansi terkait menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara situasional guna membantu pengisian waduk, bendungan, dan embung strategis sebelum kekeringan mencapai level ekstrem. Masyarakat juga diimbau untuk menggunakan air secara bijak, menjaga kondisi fisik di tengah cuaca panas, serta menghindari aktivitas memicu api yang dapat memicu kebakaran lahan.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *