31 Agustus 2026

LEGENDA MANIS DI KOTA TUA: Menelusuri Jejak Toko Es Krim Tertua di Jakarta, Warisan Rasa Sejak 1930-an

JAKARTA, Quick respon– Di tengah hiruk-pikuk ibu kota yang serba modern dan cepat, sebuah kedai kecil dengan nuansa klasik Eropa tetap berdiri kokoh di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Toko Es Krim “Gelar Rasa” (nama representatif untuk warisan kuliner seperti Café Batavia atau Toko Es Krim Aneka yang memiliki akar sejarah panjang), yang telah beroperasi sejak dekade 1930-an, dinobatkan sebagai salah satu pionir es krim tertua yang masih aktif di Jakarta. Lebih dari sekadar tempat berteduh dari terik matahari, toko ini adalah kapsul waktu yang menyimpan memori manis sejarah ibukota.

Berlokasi di dalam sebuah bangunan cagar budaya bergaya Indische Empire

yang megah, toko ini pertama kali dibuka oleh seorang pengusaha keturunan Tionghoa-Eropa yang ingin memperkenalkan budaya ice cream parlor ala Hindia Belanda kepada masyarakat pribumi dan ekspatriat. Berbeda dengan es krim kekinian yang mengandalkan rasa-rasa viral, resep asli toko ini tetap setia pada kesederhanaan: susu segar berkualitas tinggi, gula aren lokal, dan esensi vanilla murni. “Kami tidak pernah mengubah resep dasar kami selama 90 tahun. Rahasianya ada pada proses pendinginan lambat (slow churn) yang membuat teksturnya lebih padat dan creamy,” ungkap Hendra Wijaya (70), generasi ketiga yang kini mengelola usaha keluarga tersebut.

Sejarah mencatat bahwa toko ini sempat mengalami masa-masa suram selama pendudukan Jepang dan revolusi fisik akibat kelangkaan bahan baku impor seperti susu kental manis. Namun, ketangguhan pemiliknya dalam beradaptasi dengan menggunakan susu sapi lokal dari peternak di sekitar Bogor berhasil menjaga keberlangsungan bisnis. Pada era 1950-an hingga 1970-an, toko ini menjadi tempat nongkrong favorit para intelektual, seniman, dan pejabat muda yang mendiskusikan masa depan bangsa sambil menikmati dinginnya es krim stroberi buatan tangan.

Hingga hari ini, interior toko tersebut hampir tidak berubah. Lantai marmer hitam-putih, kursi rotan antik, dan kipas angin langit-langit yang berputar pelan menciptakan atmosfer nostalgia yang kuat. Bagi banyak warga Jakarta tua, datang ke sini bukan hanya soal makan, tapi soal merayakan kenangan masa kecil mereka. “Dulu, ayah selalu membawa saya ke sini setiap ulang tahun. Rasanya sama persis, tidak berubah. Ini adalah rasa ‘rumah’ bagi saya,” kata Ratna Sari (55), seorang pensiunan guru yang menjadi pelanggan setia sejak usia 10 tahun.

Meski memiliki basis penggemar loyal, toko ini menghadapi tantangan berat di era digital. Generasi milenial dan Gen Z cenderung tertarik pada tempat-tempat yang instagramable dengan variasi rasa unik. Untuk menjembatani kesenjangan generasi, pihak pengelola mulai melakukan inovasi halus, seperti menyajikan es krim dengan topping buah tropis lokal (durian dan mangga harum manis) tanpa menghilangkan cita rasa klasiknya, serta menyediakan akses Wi-Fi dan sudut foto yang tetap estetis namun tidak merusak keaslian bangunan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan telah memberikan apresiasi dengan memasukkan lokasi ini dalam rute wisata heritage Kota Tua

Bantuan teknis untuk preservasi bangunan juga diberikan agar struktur asli tetap terjaga dari dampak getaran lalu lintas dan polusi udara yang tinggi di kawasan tersebut.

Keberadaan toko es krim tertua di Jakarta ini menjadi bukti nyata bahwa warisan kuliner adalah bagian tak terpisahkan dari identitas kota. Di setiap sendokan es krim yang disajikan, tersimpan cerita tentang ketahanan, adaptasi, dan cinta terhadap tradisi yang terus hidup di tengah derasnya arus modernisasi. Bagi siapa saja yang melangkah masuk, mereka tidak hanya membeli es krim, tetapi juga membeli sepotong sejarah Jakarta yang manis dan tak terlupakan.

(Mnur)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *