Jakarta – Quickrespons, sulit Dikendalikan: Kecepatan evolusi AI melampaui kemampuan regulasi manusia saat ini. Jika dibiarkan tanpa pagar etika dan hukum yang kuat, AI berpotensi digunakan untuk kejahatan siber, manipulasi informasi massal, hingga pengembangan senjata otonom mematikan.
Ancaman Geopolitik: Negara yang tertinggal dalam penguasaan AI berisiko menjadi “koloni digital” atau target dominasi teknologi negara adidaya lain.
Dampak Sosial: Disrupsi lapangan kerja akibat otomatisasi harus diantisipasi dengan program reskilling masif agar tidak memicu gejolak sosial.
☢️ Konteks Energi Nuklir
Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga menyinggung teknologi nuklir sebagai contoh lain dari “pedang bermata dua”. Ia mengingatkan bahwa meski menjanjikan energi bersih dan murah, risiko keselamatan dan proliferasi senjata nuklir menuntut kesiapan SDM dan infrastruktur keamanan yang sangat tinggi sebelum Indonesia memutuskan untuk mengadopsinya secara penuh.
🎓 Mandat untuk Akademisi & Ilmuwan
Prabowo secara khusus mengajak para ilmuwan, peneliti, dan perguruan tinggi untuk tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga:
Kajian Dampak Multidisiplin: Mempelajari implikasi etika, hukum, sosiologi, dan geopolitik dari AI dan nuklir.
Ketahanan Nasional: Mengembangkan teknologi yang berdaulat dan mengurangi ketergantungan pada asing.
Edukasi Publik: Membantu masyarakat memahami manfaat dan bahaya teknologi baru agar tidak mudah terprovokasi atau tertipu oleh disinformasi berbasis AI.
Arahan ini sejalan dengan visi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam revolusi industri 4.0/5.0, namun dengan prinsip “teknologi untuk kemanusiaan” yang tetap memegang teguh nilai-nilai Pancasila dan kedaulatan bangsa

