JAKARTA, Quick respon— Industri kopi tanah air kembali melahirkan inovasi kreatif yang unik. Kali ini, sebuah varian kopi terbaru bernama Kopi “Cublak Suweng” resmi diluncurkan ke pasar nasional. Bukan sekadar menawarkan cita rasa arabika dan robusta pilihan, produk ini hadir dengan kekuatan storytelling atau narasi budaya tradisional Jawa yang kental.
Peluncuran ini mendapat apresiasi langsung dari Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf), Irene Umar. Menurutnya, langkah memadukan komoditas kopi dengan filosofi lokal merupakan strategi cerdas untuk meningkatkan nilai jual produk kreatif Indonesia di kancah global.
Filosofi Pencarian Kebahagiaan Sejati
Nama “Cublak Suweng” diambil dari lagu daerah sekaligus permainan tradisional anak-anak legendaris asal Jawa Tengah, Cublak-Cublak Suweng. Di balik nadanya yang riang, lagu ciptaan Sunan Giri ini menyimpan makna filosofis yang mendalam tentang pencarian harta dan kebahagiaan sejati yang tidak boleh didasari oleh keserakahan (hawa nafsu), melainkan harus dicari dengan hati nurani yang bersih (batin yang tenang).
Narasi ini dituangkan secara kreatif mulai dari konsep kemasan, visual ilustrasi interaktif, hingga deskripsi rasa (taste notes) yang disajikan kepada penikmat kopi.
”Ini adalah bukti nyata bagaimana budaya tidak hanya menjadi warisan masa lalu, melainkan nafas utama bagi industri kreatif masa kini. Kopi Cublak Suweng berhasil membuktikan bahwa secangkir kopi bisa menjadi media edukasi budaya yang sangat menarik,” ujar Wamen Ekraf Irene Umar saat memberikan sambutan di Jakarta, Jumat (17/7/2026).
Komitmen Pemberdayaan Petani Lokal
Selain mengusung konsep kebudayaan, produsen di balik Kopi Cublak Suweng juga berkomitmen pada aspek keberlanjutan (sustainability). Biji kopi yang digunakan dipasok langsung dari para petani lokal di lereng-lereng gunung di Jawa Tengah melalui sistem perdagangan yang adil (fair trade).
Melalui peluncuran ini, pihak pengembang berharap Kopi Cublak Suweng tidak hanya menjadi konsumsi harian masyarakat urban, tetapi juga dapat menjadi pilihan buah tangan (oleh-oleh) diplomatik yang memperkenalkan filosofi adiluhung Nusantara kepada penikmat kopi di berbagai belahan dunia.
(Mnur)

